Sabtu, 08 Februari 2014
PROSEDUR PEMERIKSAAN
ANGGOTA GERAK ATAS
Manus PA, Manus PA Oblique, Wrist Joint PA, Wrist Joint Lateral, Antebrachii AP, Antebrachii Lateral, Elbow Joint AP, Elbow Joint Lateral, Humerus AP, Humerus Lateral, Shoulder Joint AP, Shoulder Joint AP-Exorotation, Shoulder Joint AP-Endorotation, Scapula PA Y View, Clavicula AP.
• Baca amprahan dari dokter.
• Panggil pasien.
• Input nama pasien.
• Ambil kaset disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.
• Ketika pasien masuk ruangan tanyakan nama pasien dan bagian yang sakit.
• Jika bagian yang sakit sudah dipastikan lakukan positioning pada pasien dan objek yang diperiksa.
• Letakkan objek diatas kaset melintang atau memanjang sesuai dengan objek yang diperiksa, dapat dibagi 2 atau tidak sesuai dengan kebutuhan.
• Atur luas lapangan penyinaran, jarak (FFD) dan arah sinar (CR).
• Letakkan center point :
- Manus PA dan Manus PA Oblique pada metacarpophalangeal digiti III.
- Wrist Joint AP pada midcarpal dan Wrist Joint Lateral pada pertengahan wrist joint.
- Antebrachii AP dan Antebrachii Lateral pada pertengahan lengan bawah (forearam).
- Elbow Joint AP dan Elbow Joint Lateral pada pertengahan lipatan siku.
- Humerus AP dan Humerus Lateral pada pertengahan lengan atas (arm).
- Shoulder joint AP, Shoulder joint AP exorotation, Shoulder joint AP endorotation pada pertengahan processus coracoideus
- Scapula Lateral Y View pada pertengahan scapula.
- Clavicula AP pada pertengahan clavicula.
• Atur kV dan mAs.
• Ekspos.
• Ambil kaset, barcode dan diproses di CR.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Foto dan amprahan diantar ke ruang dokter/diberikan ke loket jika di minta basah.
Note :
- Tidak ada perbedaan dengan materi yang diberikan di kampus.
ANGGOTA GERAK BAWAH
Pedid AP, Pedis AP Oblique, Calcaneus Lateral, Ankle Joint AP, Ankle Joint Lateral, Cruris AP, Cruris Lateral, Knee Joint AP, Knee Joint Lateral, Patella Axial (Sky line), Femur AP, Femur Lateral, Hip Joint AP, Pelvis AP, Pelvis AP Frog Leg.
• Baca amprahan dari dokter.
• Panggil pasien.
• Input nama pasien.
• Ambil kaset disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.
• Ketika pasien masuk ruangan tanyakan nama pasien dan bagian yang sakit.
• Lihat objek yang akan diperiksa, pastikan tidak ada perhiasan dan peralatan lainnya yang dapat mengganggu hasil pemotretan, jika ada mintalah pasien untuk melepasnya terlebih dahulu.
• Jika bagian yang sakit sudah dipastikan lakukan positioning pada pasien dan objek yang diperiksa.
• Letakkan objek diatas kaset melintang atau memanjang sesuai dengan objek yang diperiksa, dapat dibagi 2 atau tidak sesuai dengan kebutuhan.
• Atur luas lapangan penyinaran, jarak (FFD) dan arah sinar (CR).
• Letakkan center point :
- Pedis AP dan Pedis AP Oblique pada metatarsal III.
- Calcaneus Lateral pada pertengahan tumit.
- Ankle Joint AP dan Ankle Joint Lateral pada pertengahan Ankle joint.
- Cruris AP dan Cruris Lateral pada pertengahan tungkai bawah.
- Knee Joint AP dan Knee Joint Lateral pada pertengahan lutut.
- Patella Axial (Skyline) pada pertengahan tempurung lutut.
- Femur AP dan Femur Lateral pada pertengahan tungkai atas.
- Hip Joint AP pada pertengahan lipatan persendian tungkai atas.
- Pelvis AP dan Pelvis Frog leg pada pertengahan antara simphisis pubis dan SIAS.
• Atur kV dan mAs.
• Ekspos.
• Ambil kaset, barcode dan diproses di CR.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Foto dan amprahan diantar ke ruang dokter/diberikan ke loket jika di minta basah.
Note :
- Pelvis Frog leg belum pernah diajarkan pada materi kampus.
VERTEBARAE DAN RANGKA DADA
Cervical AP, Cervical Lateral, Cervical AP Oblique (RPO dan LPO), Thoracal AP, Thoracal Lateral, Lumbal AP, Lumbal Lateral, Lumbo-Sacral AP, Lumbo-Sacral Lateral, Coccygeus AP, Coccygeus Lateral, Ribs PA, Scoliosis Control (AP dan Lateral).
• Baca amprahan dari dokter.
• Panggil pasien.
• Input nama pasien.
• Ambil kaset disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.
• Ketika pasien masuk ruangan tanyakan nama pasien dan bagian yang sakit.
• Mintalah pasien mengganti pakaian dengan pakaian ganti dan mintalah pasien melepas perhiasan yang dapat mengganggu hasil gambaran.
• Jika bagian yang sakit sudah dipastikan lakukan positioning pada pasien dan objek yang diperiksa.
• Letakkan objek diatas kaset melintang atau memanjang sesuai dengan objek yang diperiksa.
• Atur luas lapangan penyinaran, jarak (FFD) dan arah sinar (CR).
• Letakkan center point :
- Cervical AP, Cervical Lateral dan Cervical AP Oblique (RPO dan LPO) pada pertengahan leher (Cervical 4).
- Thoracal AP dan Thoracal lateral batas bawah SIAS tercakup.
- Lumbal AP dan Lumbal Lateral pada umbilikus (lumbal 3).
- Lumbo-Sacral AP dan Lumbo-Sacral Lateral pada umbilicus (lumbal 3).
- Coccygeus AP dan Coccygeus Lateral 5 cm superior dari symphysis pubis.
- Ribs PA pada thoracal 7, sejajar dengan axilla.
- Scoliosis Control, batas bawah SIAS tercakup.
• Atur kV dan mAs.
• Ekspos.
• Ambil kaset, barcode dan diproses di CR.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Foto dan amprahan diantar ke ruang dokter/diberikan ke loket jika di minta basah.
Note :
- Pada pemotertan Thoracal materi di kampusyang tercakup hanya dari cervical 7 sampai Lumbal 1.
- Materi Scoliosis Control belum diberikan.
TULANG-TULANG KEPALA
Kepala AP, Kepala Lateral, SPN Waters, SPN Caldwell, SPN Lateral, Nasal Lateral, Nasal Waters, TMJ open dan closed mouth (R dan L)
• Baca amprahan dari dokter.
• Panggil pasien.
• Input nama pasien.
• Ambil kaset disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.
• Ketika pasien masuk ruangan tanyakan nama pasien dan bagian yang sakit.
• Perhiasan pasien yang dapat mengganggu gambaran diminta untuk dilepas terlebih dahulu.
• Jika bagian yang sakit sudah dipastikan lakukan positioning pada pasien dan objek yang diperiksa.
• Letakkan objek diatas kaset melintang atau memanjang sesuai dengan objek yang diperiksa.
• Atur luas lapangan penyinaran, jarak (FFD) dan arah sinar (CR).
• Letakkan center point :
- Kepala AP pada glabella/ Nasion dan Kepala Lateral 5 cm di atas MAE.
- SPN Waters dan SPN Caldwell pada parieto-occipital, SPN Lateral 2,5 cm posterior dari outer chantus.
- Nasal Lateral pada pertengahan hidung dan nasal waters pada parieto-occipital.
- TMJ open mouth dan closed mouth (R dan L) 4 cm dari TMJ yang jauh dari film.
• Atur kV dan mAs.
• Ekspos.
• Ambil kaset, barcode dan diproses di CR.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Foto dan amprahan diantar ke ruang dokter/diberikan ke loket jika di minta basah.
Note :
- Materi open mouth dan closed mouth belum pernah diberikan dikampus.
THORAX DAN ABDOMEN
Thorax PA, Thorax AP Supine/Setengah duduk/Tegak, Abdomen (BNO) AP, Abdomen AP Oblique (RPO).
• Baca amprahan dari dokter.
• Panggil pasien.
• Input nama pasien.
• Ambil kaset disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.
• Ketika pasien masuk ruangan tanyakan nama pasien dan bagian yang sakit.
• Mintalah pasien mengganti pakaian dengan pakaian ganti dan mintalah pasien melepas perhiasan yang dapat mengganggu hasil gambaran.
• Jika bagian yang sakit sudah dipastikan lakukan positioning pada pasien dan objek yang diperiksa.
• Letakkan objek diatas kaset melintang atau memanjang sesuai dengan objek yang diperiksa.
• Atur luas lapangan penyinaran, jarak (FFD) dan arah sinar (CR).
• Letakkan center point :
- Thorax PA, AP dan Lateral pada thoracal 7 atau setinggi axilla.
- Abdomen (BNO) AP dan Abdomen RPO pada umbilicus (Lumbal 3).
• Atur kV dan mAs.
• Berikan aba-aba kepada pasien :
- Pada pemotretan Thorax tarik napas panjang, tahan *ekspos* napas biasa kembali.
- Pada pemotretan Abdomen tarik napas, keluarkan, tahan *ekspos* napas biasa kembali.
• Ekspos d sesuaikan dengan aba-aba.
• Ambil kaset, barcode dan diproses di CR.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Foto dan amprahan diantar ke ruang dokter/diberikan ke loket jika di minta basah.
Note :
- Tidak ada perbedaan dengan materi yang diberikan di kampus.
PANORAMIC
Menggunakan DR, tanpa kaset. Prosedur yang dilakukan :
• Panggil pasien.
• Input nama pasien ke computer.
• Tanyakan nama pasien.
• Pasien menggunakan apron.
• Siapkan plastik untuk tempat pasien menggigit.
• Positioningkan pasien dengan memperhatikan 3 garis kolimasi.
• Sampaikan kepada pasien bahwa alat akan berputar dan pasien tidak boleh bergerak.
• Perhatikan tanda dikomputer.
• Ekspos.
• Foto terlihat di komputer.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Antar ke dokter untuk di baca / berikan ke loket jika diminta basah.
Note :
Materi yang diberikan di kampus berbeda karena pesawat yang digunakan berbeda serta di kampus masih menggunakan kaset.
MAMMOGRAFI
Menggunakan CR dan menggunakan 4 kaset khusus mammografi. Prosedur yang dilakukan :
• Panggil pasien.
• Input data pasien ke computer.
• Tanyakan nama pasien.
• Tanyakan apakah sudah pernah mammografi atau belum, jika belum sampaikan kepada pasien bahwa nantinya akan dilakukan press mammae.
• Pasien melepas baju dan BH.
• Lakukan positioning pasien dan berikan marker sesuai posisi yang dilakukan.
• Mammae dipress dan lakukan ekspos.
• Pasien disuruh mengenakan baju lagi dan lakukan wawancara singkat sesuai form yang ada.
• Tanyakan pasien apakah ada pemeriksaan selanjutnya (biasanya USG) jika ada, pasien diminta menunggu lagi di ruang tunggu.
• Barcode kaset dan diproses di CR.
• Print foto.
• Berikan amano pada amprahan dan catat film yang digunakan.
• Foto dan amprahan diantar ke ruang dokter/diberikan ke ruang USG.
OESOFAGOGRAFI
2.1 Pengertian Oesophagografi
Oesofagografi adalah pemeriksaan radiografi esofagus dengan menggunakan bahan kontras media per oral biasanya barium sulfat dengan perbandingan 1:1 atau 1:2. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan single kontras (hanya barium sulfat) atau dengan double kontras (barium dan udara dimana pasien diberi kristal baking soda) untuk lebih meningkatkan kualitas gambar.
2.2 Tujuan Oesophagografi
Untuk melihat anatomi dan fungsi dari pharing dan esofagus dalam traktus digestivus.
2.3 Anatomi Fisiologi
Esofagus merupakan suatu organ silindris berongga dengan panjang sekitar 25 cm dan garis tengah 2 cm. Terbentang dari hipofaring hingga kardia lambung. Esofagus terletak posterior terhadap jantung dan trakea, anterior terhadap vertebra dan berjalan melalui lubang pada diafragma tepat anterior terhadap aorta.
Otot esofagus bagian sepertiga atas adalah otot rangka yang berhubungan erat dengan otot-otot faring sedangkan dua pertiga bawah adalah otot polos yang terdiri dari otot sirkuler dan otot longitudinal seperti yang terdapat pada organ saluran cerna yang lain. Berbeda dengan bagian saluran cerna yang lain, bagian luar esofagus tidak memiliki lapisan serosa ataupun selaput peritonium melainkan terdiri atas jaringan ikat jarang yang menghubungkan esofagus dengan struktur-struktur yang berdekatan.
Esofagus mengalami penyempitan di tiga tempat yaitu setinggi cartilago cricoideus pada batas antara faring dan esofagus, rongga dada bagian tengah akibat tertekan lengkung aorta dan cabang bronkus utama kiri, serta pada hiatus esofagus diafragma.
Pada kedua ujung esofagus terdapat otot sfingter. Krikofaringeus membentuk sfingter bagian atas yang terdiri dari serabut-serabut otot rangka. Sfingter esofagus bagian bawah, walaupun secara anatomis tidak nyata, bertindak sebagai sfingter dan berperan sebagai sawar terhadap refluks isi lambung ke dalam esofagus.
Distribusi darah esofagus mengikuti pola segmental. Bagian atas disuplai oleh cabang-cabang a. thyroidea inferior dan a. subclavia. Bagian tengah disuplai oleh cabang-cabang segmental aorta dan a.bronkiales, sedangkan bagian subdiafragmatika disuplai oleh a.gastrika sinistra dan a. frenica inferior.
Aliran darah vena juga melalui pola segmental. Vena-vena esofagus bagian leher mengalirkan darah ke v.azygos dan v. Hemiazygos sedangkan vena-vena esofagus bagian subdiafragmatika masuk ke dalam v.gastrica sinistra. Persarafan utama esofagus dilakukan oleh serabut-serabut simpatis dan parasimpatis dari sistim saraf otonom. Serabut saraf simpatis dibawa oleh n. vagus. Selain serabut saraf ekstrinsik, terdapat jala-jala serabut saraf intramural intrinsik di antara lapisan otot sirkuler dan longitudinal ( pleksus mienterikus Auerbach ) dan pleksus Meissner yang terletak pada submukosa esofagus.
2.4 Indikasi Pemeriksaan
Berikut adalah indikasi-indikasi dalam pemeriksaan Oesofagografi :
a) Disfalgia adalah kesulitan saat menelan.
b) Akhalasia esofagus adalah kelainan neomuskular yang menyebabkan kegagalan gerak esofagus (penurunan pergerakan peristaltic 2/3 distal esofagus).
c) Massa atau tumor di daerah esofagus.
d) Varises esofagus yakni pelebaran pembuluh darah vena pada esofagus.
e) Striktura esofagus atau penyempitan esofagus.
f) Divertikula terbentuknya kantong-kantong kecil pada dinding esofagus yang mengarah ke bagian luar.
g) Kecurigaan corpus alienum.
2.5 Prosedur Pemeriksaan
o Pasien datang ke bagian radiologi dan mendaftarkan diri untuk memeriksa oesofagografi
o Setelah dipanggil oleh petugas, pasien masuk ke ruangan pemeriksaan.
o Setelah masuk ruangan pemeriksaan, petugas menjelaskan kepada pasien tentang pemeriksaan yang akan dilakukan.
o Pasien diberitahu beberapa instruksi yang nantinya harus dilakukan selama pemeriksaan berlangsung.
o Sebelum diposisikan pasien diminta untuk berganti pakaian dengan baju pasien yang telah disediakan, dan bagi yang wanita diminta untuk melepaskan asesoris yang dapat mengganggu hasil gambaran, misalnya BH dan kalung.
o Pasien diposisikan sesuai dengan posisi yang ditentukan oleh radiographer.
o Untuk mendapatkan hasil yang akurat dalam proses menelan yang simetris, posisi pasien harus di tengah / simetris dan tidak ada pergerakan pada pasien selama pemeriksaan kecuali ada instruksi dari radiographer.
o Radiografer menyiapkan suspensi kontras barium.
o Pasien diminta untuk mengikuti aba-aba dari radiographer untuk memasukan/menelan kontras.
o Perjalanan bahan kontras melewati pharing dan esophagus dilihat melalui monitor (Fluoroscopy) untuk menilai fungsi menelan.
o Perhatikan adanya aspirasi, kelemahan, obstruksi, striktur atau kelambatan pengosongan, Jika didapatkan aspirasi yang signifikan, maka pemeriksaan harus dihentikan.
o Prosedur dilakukan sampai selesai dan setelah selesai semua alat dan bahan dirapikan kembali.
2.6 Metode Pemeriksaan
Oesophagografi adalah pemeriksaan raduografi esofagus dengan menggunakan bahan kontras. Umumnya menggunakan kontras tunggal : kontras media (+), tetapi dapat juga menggunakan kontras ganda : kontras media (+) dan (-).
1. Bahan kontras
o Kontras (+) : Barium sulfat dengan perbandingan 1:1 atau 1:2
o Kontras (-) : Kristal-kristal karbon dioksida (menelan tablet yg bisa menimbulkan gas).
Keuntungan memakai kontras ganda adalah dapat lebih jelas memperlihatkan dinding / mukosa esofagus.
2. Teknik Pemasukan Bahan Kontras
a. Pasien diposisikan antara meja pemeriksaan yang diatur vertikal dengan layar flouroscopy.
b. Siapkan barium sulfat dangan perbandingan 1:1
c. Kemudian berikan barium sulfat, instruksikan untuk menelan beberapa teguk, proses ini dikontrol dengan flouroscopy.
d. Bila pasien tidak memungkinkan untuk diposisikan erect, dapat dilakukan dengan recumbent, posisi ini memungkinkan.
e. Pengisian lumen esofagus lebih sempurna terutama bagian proximal. (Diperlukan pada klinis varises esophagus)
3. Proyeksi Pasien
a. Proyeksi AP/PA
o Tujuan : Melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus.
o Alat-alat dan bahan :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : region pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
o Posisi Pasien : Supine.
o Posisi Objek :
MSP pada pertengahan meja / kaset
Shoulder dan hip tidak ada rotasi
Tangan kanan memegang gelas barium
Tepi atas film 5 cm di atas shoulder
o CR : Tegak lurus terhadap kaset
o CP : Setinggi T5 atau T6 / 7,5 cm inferior jugular notch.
o FFD : 100 cm
o Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium
Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose.
Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
o Kriteria gambar :
Struktur : Oesophagus terisi barium.
Posisi : Tidak ada rotasi dari pasien (Sternoclavicular joint simetris).
Kolimasi : Seluruh Oesophagus masuk pada lapangan penyinaran.
Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus superimposed dengan th-vertebrae.
Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.
b. Proyeksi Lateral
o Tujuan : Melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus.
o Alat-alat dan Bahan :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : region pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
o Posisi Pasien : Lateral Recumbent / erect ( Lateral recumbent lebih disukai karena pengisian lebih baik).
o Posisi Objek :
Atur kedua tangan pasien di depan kepala saling superposisi, elbow flexi.
Mid coronal plane pada garis tengah meja / kaset.
Shoulder dan hip diatur true lateral, lutut flexi untuk fiksasi.
Tangan kanan memegang gelas barium .
Tepi atas kaset 5 cm di atas shoulder.
o CR : Tegak lurus terhadap kaset
o CP : Pada pertengahan kaset setinggi T5 atau T6 / 7,5 cm inferior jugular notch.
o FFD : 100 cm.
o Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium.
Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose
Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan straw langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
o Kriteria gambar :
Struktur : Oesophagus terisi barium terlihat diantara C.Vertebral dan jantung.
True lateral ditunjukan dari superposisi kosta Posterior.
Bahu pasien tidak superposisi dengan oesophagus
Oesophagus terisi media kontras.
Seluruh Oesophagus masuk pada lapangan penyinaran.
Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus secara jelas yang terisi dengan kontras.
Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.
c. Proyeksi RAO (Right Anterior Oblique)
o Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus.
o Alat-alat dan Bahan :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : region pelvic
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
o Posisi Pasien : Prone.
o Posisi Objek :
Rotasi 35 – 40 derajat dari posisi prone dengan sisi kanan depan tubuh menempel meja / film.
Tangan kanan di belakang tubuh, tangan kiri flexi di depan kepala pasien, memegang gelas barium, dengan straw pada mulut pasien.
Lutut kiri flexi untuk tumpuan.
Pertengahan thorax diatur pada posisi oblique pada pertengahan meja
Tepi atas kaset 5 cm di atas shoulder
o CR : Tegak lurus terhadap kaset
o CP : pada pertengahan kaset setinggi T5 atau T6.
o FFD : 100 cm.
o Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium.
Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose.
Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
o Kriteria gambar :
Struktur : Oesophagus terisi barium terlihat diantara C.Vertebral dan jantung (RAO menunjukan gambaran lebih jelas antara vertebrae dan jantung dibandingkan LAO).
Rotasi yang cukup akan menampakkan oesophagus diantara C. Vert. & Jantung, jika oesophagus superimposed diatas spina, rotasi perlu ditambah.
Bahu pasien tidak superposisi dengan oesophagus
Oesophagus terisi media kontras.
Seluruh Oesophagus masuk pada lapangan penyinaran.
Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus secara jelas yang terisi dengan kontras.
Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.
d. Proyeksi LAO (Left Anterior Oblique)
o Tujuan : melihat Strictura, benda asing, kelainan anatomis, tumor & struktur dari oesophagus.
o Alat-alat dan Bahan :
Film 30 x 40 cm memanjang
Moving / Stationary Grid
Shielding : region pelvic.
Barium Encer = BaSO4 : air = 1:1
Barium kental = BaSO4 : air = 3:1 atau 4 :1
o Posisi Pasien : Prone.
o Posisi Objek :
Rotasi 35 – 40 derajat dari posisi PA dengan sisi kiri depan tubuh menempel meja / film.
Tangan kiri di belakang tubuh, tangan kanan flexi di depan kepala pasien, memegang gelas barium, dengan straw pada mulut pasien.
Lutut kanan flexi untuk tumpuan.
Pertengahan thorax diatur pada posisi obliq pd pertengahan meja.
Tepi atas kaset 5 cm di atas shoulder
o CR : Tegak lurus terhadap kaset.
o CP : Pada pertengahan kaset setinggi T5 atau T6 / 7,5 cm inferior jugular notch.
o FFD : 100 cm.
o Eksposi : Pada saat tahan nafas setelah menelan barium
Pasien menelan 2/3 sendok barium kental kemudian diekspose
Untuk “full filling” digunakan barium encer. Pasien minum barium dengan sedotan langsung expose dilakukan setelah pasien menelan 3-4 tegukan.
o Kriteria gambar :
Struktur : Oesophagus terisi barium terlihat diantara sekitar hilus paru dan C.Vertebral
Posisi : Bahu pasien tidak superposisi dengan oesophagus, esophagus terisi media kontras.
Seluruh Oesophagus masuk pada lap.penyinaran.
Teknik yang digunakan mampu menampakkan oesophagus secara jelas yang terisi dengan kontras, menembus bayangan jantung.
Tepi yang tajam menunjukkan tidak ada pergerakan pasien saat eksposi.
2.7 Persiapan Pasien
Selama ingin dilakukan pemeriksaan oesofagografi, pasien tidak mempunyai persiapan-persiapan khusus. Pemeriksaan oesofagografi berbeda dengan pemeriksaan bahan kontras lainnya, bila pemeriksaan bahan kontras lain memerlukan persiapan-persiapan khusus, sedangkan untuk pemeriksaan oesofagografi tidak perlu melakukan persiapan-persiapan khusus seperti puasa.
2.8 Alat dan Bahan
o Bahan kontras media
o Pesawat konvensional atau fluoroscopy
o Grid dan Film+kaset Radiografi
o Gelas ukur
o Sendok pengaduk
o Sedotan (Straw)
o Kain bersih atau tissue
o Gelas berisi air
LUMBAL ANTERIOR-POSTERIOR
LUMBAL ANTERIOR-POSTERIOR
NAMA : ERA FRANSISKA
TINGKAT : I D3 REGULER
NPM : P2.31.30.0.11.010
JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES JAKARTA II KEMENTERIAN KESEHATAN
I. Alat dan Bahan
1. Pesawat Radiologia 250 mA (Pesawat Mobile)
2. Kaset radiografi ukuran 24x30 cm
3. Film Radiografi ukuran 24x30 cm
4. Marker R
5. Phantom Lumbal
6. Sand Bag
7. Hanger ukuran 24x30
8. Alat Processing (Developer, Air, Fixer)
II. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Mengatur tabung rontgen di atas meja pemeriksaan
3. Mengatur berkas sinar pada pertengahan meja pemeriksaan
4. Meletakkan objek (lumbal) diatas kaset tepat dibawah tabung rontgen, dan posisikan objek (lumbal) dipertengahan kaset
5. CP : Tegak lurus ke film pada Lumbal 3, 5 cm di atas Spina Illiaca Anterior Superior (SIAS), jika di tarik garis lurus menuju ke tengah
6. CR : Tegak lurus vertikal terhadap objek
7. Meletakkan marker R diatas kaset di bagian yang tidak menghalangi pemotretan
8. Ukur FFD 90 cm
9. Atur faktor eksposisi 71 kV ; 20 mAs
10. Lakukan expos
11. Kemudian di bawa ke ruang processing untuk dimasukan ke developer, air, fixer, air setelah itu masukan ke pengering (drying)
III. Outline
1. Tujuan Pemeriksaan : Untuk mengetahui dan melihat fraktur pada lumbal.
2. Dasar Teori : Vertebra lumbalis adalah segmen terbesar dari bagian yang dapat digerakkan dari kolom tulang belakang , dan ditandai oleh adanya transversarium foramen dalam proses transversus, dan dengan tidak adanya aspek pada sisi tubuh. Seperti dengan vertebra lainnya, masing-masing ruas tulang lumbal terdiri dari tubuh vertebral dan lengkungan vertebral . Lengkungan tulang belakang, terdiri dari sepasang pedikel dan sepasang lamina , membungkus foramen vertebralis (pembukaan).
3. Anatomi
:
4. Indikasi Pemeriksaan : Fraktur tidak ditemukan
5. Teknik Radiografi
a. Posisi Pasien : Supine diatas meja
b. Posisi obyek
• Perintahkan pasien untuk posisi lateral recumbent dan fleksikan hip dan knee untuk menempatkan pasien dalam posisi yang nyaman.
• Atur Median Coronal Plane pada pertengahan grid
• Letakkan bantal ke MSP kepala agar sejajar dengan tulang belakang
• Untuk menjaga tidak ada rotasi letakkan sandbag pada knee
• Atur agar tulang belakang tetap dalam posisi horizontal
• Jika menggunakan film yang besar pertengahan kaset setinggi puncak ilium
• Pasien diperintahkan tahan nafas selama eksposi
• Shield gonad
c. Central Point : Lumbal ke-3, 5 cm di atas Spina Illiaca Anterior Superior (SIAS), jika di tarik garis lurus menuju ke tengah
d. Central Ray : Vertical
e. Faktor Eksposisi : kV : 71 ,mAs: 20
f. Accesories Radigrafi : marker dan sandbag
g. Hasil Radiografi : tidak terjadi fraktur
6. Analisis Gambar : Densitas kurang, kontras dan ketajaman kurang, detile kurang(Transverse Process tidak terlihat, intervertebral joint tidak terbuka), tidak simetris, proteksi radiasi lumayan bagus (dilihat dari kolimasi yang dibuat), dan mengalami sedikit magnifikasi.
7. Kesimpulan : Jika dibandingkan dengan kriteria gambar, hasil gambar terdapat kekurangan yaitu tidak terdapat Lumbal 5.
KEDOKTERAN NUKLIR
KEDOKTERAN NUKLIR
1. Pengertian Kedokteran Nuklir
Kedokteran Nuklir adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang memanfaatkan energi inti atom buatan untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian kedokteran.
2. Instrumentasi Kedokteran Nuklir
a. Prinsip Pencitraan Kedokteran Nuklir
• Menggunakan radioisotop sbg sumber sinar gamma dengan energi 80-511 keV
• Radioisotop dimasukkan kedalam organ tubuh yang diperiksa (in vivo)
• Organ tubuh memencarkan radiasi, detektor mencatat paparan diluar tubuh
• Radiasi diubah menjadi cahaya, cahaya diubah menjadi data digital, data digital direkonstruksi menjadi citra diagnostik.
b. Alur Pencitraan Kedokteran Nuklir
Dalam prinsip pencintraan pada kedokteran nuklir ada beberapa alur-alur yang harus di ketahui. Berikut alur-alur untuk pencitraan pada kedokteran nuklir :
• Pembuatan jenis radiofarmaka sesuai dengan jenis pemeriksaan kedokteran nuklir yang akan di lakukan. Radiofarmaka adalah senyawa aktif yang dapat diberikan kepada pasien, merupakan sumber terbuka dan ikut metabolisme tubuh.
• Radiofarmaka yang sudah di siapkan tersebut lalu di suntikan melalui pembuluh darah pasien, jenis radiofarmaka yang dimasukan sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan di lakukan pada kedokteran nuklir.
• Setelah disuntikan radiofarmaka melalui pembuluh darah pasien, maka radiofarmaka atau radiasi yang ada di dalam tubuh pasien pasti akan memancar sinar gamma atau radiasi gamma ke segala arah..
• Radiasi gamma atau sinar gamma yang dipancarkan dari tubuh pasien itu akan di tangkap oleh detektor pada pesawat gamma kamera, lalu akan di saring dengan kolimator, fungsi kolimator pada kedokteran nuklir ini adalah untuk menangkap radiasi gamma atau sinar gamma yang dipancarkan dari tubuh pasien, kolimator yang digunakan pada kedokteran nuklir ini harus di sesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan, misalkan untuk pemeriksaan thyroid, maka kolimator yang digunakan adalah kolimator khusus pemeriksaan thyroid. Jadi, bila kolimator tidak sesuai untuk pemeriksaan yang dilakukan, maka gambaran kedokteran nuklir akan menjadi tidak jelas, atau bisa di sebut blur dan banyak noise.
• Sinar gamma atau radiasi gamma yang ditangkap oleh detektor ataupun kolimator maka akan di teruskan ke PHA, Kordinat x.y, logic sirkuit amplifikasi. PHA, Kordinat xy, dan logic sirkuit amplifikasi ini berguna untuk menentukan gambaran kedokteran nuklir, apakah gambaran itu bagus atau blur/jelek.
• Setelah melawati PHA, Kordinat xy dan logic sirkuit amplifikasi maka akan diteruskan melalui komputer untuk menampilkan gambaran kedokteran nuklir ataupun untuk pencatatan dan mencetak gambaran kedokteran nuklir.
Berikut bagan atau skema alur pembentukan pencitraan pada kedokteran nuklir
3. Unsur utama untuk menentukan perkembangan pemeriksaan kedokteran nuklir
Ada beberapa faktor atau unsur utama yang sangat menentukan perkembangan pemeriksaan kedokteran nuklir dari awal penemuan kedokteran nuklir sampai pada zaman modern ini. Berikut unsur-unsur utama yang dianggap menentukan perkembangan pemeriksaan kedokteran nuklir, yaitu :
• Jenis dan formula radiofarmaka
• Instrumen penangkap dan pengubah foton
• Komputer pengolah data dan kemampuan rekonstruksi citra
4. Perkembangan kedokteran nuklir
Dalam materi ini akan dijelaskan perkembangan kedokteran nuklir dari awal penemuan kedokteran nuklir hingga zaman modern seperti sekarang ini,
a. Perkembangan dari gamma kamera menuju spect
Berikut akan dijelaskan bagaimana perkembangan dari gamma kamera menjadi SPECT (Single photon energi computed tomography) :
• Menggunakan radiofarmaka yang sejenis.
• Perubahan/modifikasi pada instrumen penangkap radiasi (kolimator dan detektor).
• Tujuannya untuk menangkap energi foton tunggal yang mewakili lapisan/potongan organ tertentu
Selain itu akan kami tampilkan beberapa perbedaan radiofarmaka (energi) yang akan di gunakan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan :
Organ: radiofarmaka: energy
Thyroid 131 I 364 keV
SSP 99m Tc DTPA 140 keV
CSF 131 I RISA 364 keV
Tulang 87m Sr 388 keV
Paru 99m Tc MAA 140 keV
Liver 99m Tc sulfur coll 140 keV
GB 131 I Rosebengal 364 keV
Berikut instrument-instrumen yang digunakan pada pesawat SPECT :
• Kamera sinar gamma dikopel dengan gantry (head + gantry)
• Dapat bergerak mengelilingi obyek, sebagaimana pada CT
• Menggunakan colimator khusus untuk menangkap foton dari lapisan obyek tertentu
• Konstruksi lobang-lobang colimator (colimator hole) dibuat supaya dapat menangkap foton yang terpancar dari kedalaman tertentu organ tertentu.
• Apabila head bergerak (scanning) maka detektor akan menangkap foton-foton dari lapisan tertentu saja, yang dibutuhkan untuk penggambaran .
Ada beberapa perkembangan yang begitu pesat pada head dan Kolimator di pesawat SPEC :
• Single head, double head dan triple head
• Rotasi dari 1800 sampai 3600
• Gambaran : planar, bi-planar, multi planar dan cross-sectional
b. Perkembangan dari SPECT menuju PET pada pemeriksaa kedokteran nuklir
Berikut perkembangan spect menuju PET :
• Foton gamma merupakan radiasi annihilasi
• Radionuklida C,N,O pemancar positron, diproduksi dengan cyclotron
• Data koinsiden (detektor,sirkuit)
• Konstruksi gantry dan detektor seperti pada CT scan
• Pencitraan : planar, crosssectional, coronal.
• Reolusi gambar hampir sama dengan SPECT
• Foton gamma radiasi annihilasi
• Radionuklida C,N,O pemancar positron, diproduksi dengan cyclotron
• Data koinsiden (detektor,sirkuit)
• Konstruksi gantry dan detektor seperti pada CT scan
• Pencitraan : planar, crosssectional, coronal.
• Reolusi gambar hampir sama dengan SPECT
Kelelahan pada pasien untuk PET :
• Elemen stabil C,N,O dijadikan radionuklida menggunakan cyclotron untuk menghasilkan positron.
• Dimasukkan kedalam tubuh sehingga positron bertemu elektron menghasilkan radiasi annihilasi, enersinya kembar (0.51 MeV) arah berlawanan, keluar tubuh ditangkap oleh detektor koinsiden.
C,N,O diproses dengan cyclotron menjadi radioisotop pemancar positron (b+)
C,N,O diproses dengan cyclotron
5. Karakteristik Positron
• Definisi : elektron bermuatan positif
• Asal : inti yang kekurangan netron
• Produksi : accelerator
• Peluruhan inti : p n + e+ + neutrino
• Peluruhan positron : annihilasi,
foton kembar 0,511 MeV,
arah berlawanan
• Radionuklida dalam PET : 11C, 13N, 15O, 18F, 68Ga
Radionuklida dalam PET
Carbon Nitrogen Oksigen
Inti : 11C 13N 15O
Half-life : 20,4 min 9,97 min 2,03 min
Proton : 14N(p,a)11C 16O(p,a)13N 15N(p,n)15O
Target : N2 (gas) H2O (liquid) N2+1%O(gas)
CT NASOFARING
A. Latar Belakang
Computed Tomography Scan atau biasa disebut CT-Scan merupakan salah satu pencitraan diagnostik dengan cara penggabungan atau kombinasi antara pencitraan yang dilakukan oleh sinar-x dengan teknologi komputer dalam mengolah, menganalisa dan merekonstruksi data menjadi gambaran irisan transversal tubuh.
CT-Scan menghasilkan gambaran irisan tubuh baik secara transversal, coronal, atau sagital tubuh. Ini akan memudahkan untuk mendiagnosa suatu penyakit tertentu yang tidak dapat atau sukar dideteksi dengan menggunakan sinar-x secara konvensional.
Pemeriksaan-pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan menggunakan CT-Scan meliputi brain, kepala, sinus paranasal, nasofaring, tulang belakang, dan tungkaipun juga dapat diperiksa.
Nasofaring merupakan rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral. Batas- batas nasofaring yaitu batas atas (atap) adalah os sphenoid dan sebagian prosessus basilaris, batas anterior adalah koana dan palatum molle, batas posterior adalah vertebra servikal dan batas inferior adalah permukaan atas palatum molle dan berhubungan dengan orofaring.
Klinis yang banyak ditemui pada pemeriksaan Ct-Scan nasofaring adalah karsinoma nasofaring atau yang lebih dikenal sebagai kanker nasofaring. Kanker Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Penyebab kanker nasofaring belum diketahui dengan pasti. Kanker nasofaring juga dikaitkan dengan adanya virus epstein bar.
Sampai saat ini belum jelas bagaimana mulai tumbuhnya kanker nasofaring. Namun penyebaran kanker ini dapat berkembang ke bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak. Sebaiknya yang beresiko tinggi terkena kanker nasofaring rajin memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter THT. Risiko tinggi ini biasanya dimiliki oleh laki-laki atau adanya keluarga yang menderita kanker ini.
Salah satu penunjang medis untuk membantu penegakkan diagnosa kanker nasofaring adalah dengan dilakukannya pemeriksaan Ct-Scan nasofaring yang akan dibahas dalam makalah ini.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
a) Mempelajari dan mengetahui tata cara pelaksanaan pemeriksaan CT-Scan Nasofaring
b) Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknik Radiografi Khusus.
2. Tujuan khusus
a) Mengetahui secara lebih dalam tentang kanker nasofaring.
b) Untuk menambah pengetahuan mengenai anatomi fisiologi nasofaring, definisi kanker nasofaring,dan prosedur pemeriksaan Ct-Scan nasofaring.
C. Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini adalah dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai pemeriksaan CT-Scan nasofaring bagi pembaca dan sebagai salah satu syarat memenuhi tugas mata kuliah Teknik Radiografi Khusus semester 5.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Anatomi dan Fisiologi Nasofaring
Nasofaring merupakan rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral. Batas- batas nasofaring yaitu batas atas (atap) adalah os sphenoid dan sebagian prosessus basilaris, batas anterior adalah koana dan palatum molle, batas posterior adalah vertebra servikal dan batas inferior adalah permukaan atas palatum molle dan berhubungan dengan orofaring.
Ada lima batas nasofaring:
1. Superior : basis kranii, diliputi oleh mukosa dan fascia
2. Inferior : bidang horizontal yang ditarik dari palatum durum ke posterior, bersifatsubjektif karena tergantung dari palatum durum.
3. Anterior : choane, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri.
4. Posterior : - vertebra cervicalis I dan II
- fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar
- mukosa lanjutan dari mukosa atas
5. Lateral : - mukosa lanjutan dari mukosa atas dan belakang
- muara tuba eustachii
- fossa rosenmulleri
Pada dinding lateral nasofaring lebih kurang 1,5 inci dari bagian belakang konka nasalinferior terdapat muara tuba eustachius. Pada bagian belakang atas muara tuba eustachiuster dapat penonjolan tulang yang disebut torus tubarius dan dibelakangnya terdapat suatulekukan dari fossa Rosenmuller dan tepat diujung atas posteriornya terletak foramen laserum.Pada daerah fossa ini sering terjadi pertumbuhan jaringan limfe yang menyempitkan muara tuba eustachius sehingga mengganggu ventilasi udara telinga tengah.
4 dinding lateral nasofaring merupakan bagian terpenting, dibentuk oleh laminafaringobasilaris dari fasia faringeal dan otot konstriktor faring superior. Fasia ini mengandung jaringan fibrokartilago yang menutupi foramen ovale, foramen jugularis, kanalis karotis dankanalis hipoglossus. Struktur ini penting diketahui karena merupakan tempat penyebarantumor ke intrakranial.
Gambar 1. Anatomi Nasofaring
Nasofaring berbentuk kerucut dan selalu terbuka pada waktu respirasi karena dindingnya dari tulang, kecuali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle. Nasofaring akan tertutup bila paltum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan, muntah, mengucapkan kata-kata tertentu. Struktur penting yang ada di nasofaring:
1. Ostium Faringeum tuba auditiva muara dari tuba auditiva.
2. Torus tubarius, penonjolan di atas ostium faringeum tuba auditiva yang disebabkankarena cartilago tuba auditiva.
3. Torus levatorius, penonjolan di bawah ostium faringeum tuba auditiva yangdisebabkan karena musculus levator veli palatini.
4. Plica salpingopalatina, lipatan di depan torus tubarius.
5. Plica salpingopharingea, lipatan di belakang torus tubarius, merupakan penonjolan dari musculus salphingopharingeus yang berfungsi untuk membuka ostium faringeumtuba auditiva terutama ketika menguap atau menelan.
6. Recessus Pharingeus disebut juga fossa rossenmuller. Merupakan tempat predileksi karsinoma nasofaring.
7. Tonsila pharingea, terletak di bagian superior nasofaring. Disebut adenoid jika ada pembesaran. Sedangkan jika ada inflammasi disebut adenoiditis.
8. Tonsila tuba, terdapat pada recessus pharingeus.
9. Isthmus pharingeus merupakan suatu penyempitan di antara nasopharing danoropharing karena musculus sphincterpalatopharing.
10. Musculus constrictor pharingeus dengan origo yang bernama raffae pharingei.
Gambar 2. Nasofaring
Fungsi nasofaring :
1. Sebagai jalan udara pada respirasi,
2. Jalan udara ke tuba eustachii,
3. Resonator, dan
4. Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidung.
B. Patofisiologi Nasofaring
1. Definisi Kanker Nasofaring
Tumor ganas pada Nasofaring.Kanker nasofaring merupakan keganasan pada leher dan kepala yang terbanyak ditemukan di Indonesia (60 persen). Untuk mendiagnosis secara dini sangatlah sulit, karena tumor ini baru menimbulkan gejala pada stadium-stadium akhir. Gejala-gejala pada stadium awal penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit lainnya. Dimana letak dari tumor ini tersembunyi di belakang tabir langit-langit dan terletak di dasar tengkorak, dan sukar sekali dilihat jika bukan dengan ahlinya.
Presentase untuk bertahan hidup dalam 5 tahun juga terlihat mencolok, hal ini dilihat dari stadium I (76 %), stadium II (50 %), stadium III (38 %) dan stadium lanjut atau IV (16,4%).
Gambar 3. Metastasis pada Kanker Nasofaring
2. Epidemologi
Penyakit ini banyak ditemukan pada ras cina terutama yang tinggal di daerah selatan. Ras mongloid merupakan faktor dominan dalam munculnya kanker nasofaring, sehingga sering timbul di Negara-negara asia bagian selatan. Penyakit ini juga ditemukan pada orang-orang yang hidup di daerah iklim dingin, hal ini diduga karena penggunaan pengawet nitrosamine pada makanan-makanan yang mereka simpan.
3. Patofisiologi atau Etiologi
Sudah hampir dipastikan bahwa penyebab dari kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan kadar antivirus Virus Epstein Barr didapatkan cukup tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi adalah letak geografis yang sudah disebutkan diatas, penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki walaupun alasannya belum dapat dibuktikan hingga saat ini. Faktor lain yang mempengaruhi adalah faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, asap, bumbu masakan, bahan pengawet, masakan yang terlalu panas, air yang memiliki kadar nikel yang cukup tinggi, dan kebiasaan seperti orang Eskimo yang mengawetkan ikannya dengan menggunakan nitrosamine. Tentang faktor keturunan sudah banyak diteliti tetapi hingga sekarang belum dapat ditarik kesimpulan. Satu hal lagi yang penting diketahui adalah bahwa penyakit ini seringkali menyerang masyarakat dengan golongan sosial yang rendah, hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan dan lingkungan hidup di sekitar orang-orang tersebut.
C. CT Scan
1. Pengantar CT Scan
CT Scan pertama kali ditemukan oleh Dr. Godfrey Hounsfield dan Allan Macleod Cormack di Inggris pada tahun 1970.
CT Scan adalah suatu teknik pencitraan diagnostik yang menggunakan kombinasi antara sinar-x dan teknologi komputer dalam mengolah, menganalisa, dan merekonstruksi data menjadi gambaran irisan transversal tubuh yang diperiksa.
CT Scan berbentuk bulat dengan terowongan di tengahnya (donut shaped ring) dan meja pemeriksaan yang dapat digerakkan (a moveable table).
Untuk menghasilkan gambaran bagian tubuh tertentu yang lebih jelas, pemeriksaan CT scans memerlukan kontras media. Dua jenis kontras media yang digunakan adalah barium (diminum) dan iodine (intravena ).
2. Komponen CT Scan
Ada tiga komponen utama yang terdapat pada CT Scan :
a. Meja pemeriksaan
Meja pemeriksaan bentuknya kurva dan terbuat dari Carbon Graphite Fiber. Setiap scanning 1 slice selesai, meja pemeriksaan bergeser sesuai ketebalan slice.
Gambar 4. Meja Pemeriksaan CT Scan
b. Gantry
Komponen yang ada di dalam gantry diantaranya adalah terdapat tabung sinar-x, kolimator, detektor, data acquisition system, dan lampu indikator untuk sentrasi.
Gantry juga memberikan informasi ketinggian meja pemeriksaan, posisi objek, dan sudut kemiringan gantry.
c. Operator Console
Operator console merupakan pusat semua kegiatan scanning atau pengoperasian sistem secara umum dan berfungsi untuk merekonstruksi hasil gambaran sesuai kebutuhan.
G
Gambar 5. Operator Console
3. Proses Kerja CT Scan
Adapun proses pada pengambilan gambar CT Scan meliputi :
a. Registrasi Data Pasien
Isi data pasien pada layar monitor mulai dari nama, umur, jenis kelamin, jenis pemeriksaan, klinis, dan lain-lain.
b. Scanning
Selama eksposi, tabung sinar-x dan detektor di dalam gantry mengelilingi objek pada terowongan gantry.
c. Detektor
Detektor menangkap sinar-x kemudian diubah menjadi pulsa listrik dan dikirim ke ADC.
d. ADC (Analog to Digital Converter)
ADC mengubah pulsa listrik menjadi data digital kemudian dikirim ke DAS.
e. DAS (Data Acquisition System)
DAS berfungsi mengakuisisi data dan dikirim ke CPU.
f. CPU (Central Processing Unit)
CPU akan merekonstruksi gambar dan kemudian akan dikirim ke monitor, memori unit, atau ke ouput devices.
Gambar 6. Proses CT Scan
4. Generasi Pesawat CT Scan
a. Generasi ke-1
1) Perintis : EMI, London, 1977.
2) X-ray : pencil beam
3) Gerakan : translate – rotate
4) Detektor : single detector
5) Rotasi : 180 derajat
6) Waktu : 4,5 – 5,5 menit / scan slice
7) Aplikasi : head scanner
Gambar 7. CT Scan Generasi Pertama
b. Generasi ke-2
Merupakan pengembangan dari generasi ke-1
1) X-ray : narrow fan beam
2) Gerakan : translate – rotate
3) Detektor : multi detector ( 3-60)
linier array detector
4) Rotasi : 180 derajat
5) Waktu : 20 detik - 2 menit / scan slice
6) Aplikasi : head scanner
Gambar 8. CT Scan Generasi Kedua
c. Generasi ke-3
Merupakan pengembangan dari generasi ke-2
1) X-ray : wide fan beam
2) Gerakan : rotate – rotate
3) Detektor : multi detector (10-280)
curve array detector
4) Rotasi : 360 derajat
5) Waktu : 1,4-14 detik / scan slice
6) Aplikasi : whole body scanner
Gambar 9. CT Scan Generasi Ketiga
d. Generasi ke-4
Merupakan pengembangan dari generasi ke-3.
1) X-ray : wide fan beam
2) Gerakan : stationary-rotate system
3) Detektor : multi detector (424-2400)
slip ring detector
4) Rotasi : 360 derajat
5) Waktu : <10 detik / scan slice
6) Aplikasi : whole body scanner
Gambar 10. CT Scan Generasi Keempat
e. Generasi ke-5
Merupakan pengembangan dari generasi ke-4
1) X-ray : wide fan beam
2) Gerakan : stationary-rotate system
3) Detektor : multi detector (424-2400)
slip ring detector
4) Rotasi : 360 derajat
5) Waktu : <10 detik / scan slice
6) Aplikasi : whole body scanner
(multi slice, 3D, 4D)
5. Parameter CT Scan
Parameter pokok CT Scan meliputi dua tahap utama yaitu :
a. Sebelum scanning : mAs, kV, slice thickness, patient size, dan scan time.
1) mAs
Parameter mAs merupakan kuantitas sinar x yang digunakan dalam melakukan scanning suatu objek. mAs bertujuan untuk menghasilkan resolusi gambar.
2) kV
Penggunaan kV berpengaruh terhadap banyaknya emisi quantum sinar x dan dosis radiasi. Semakin tinggi kV yang diberikan spektrum radiasi akan tinggi, dan level energi akan tinggi.
3) Slice Thickness
Penentuan slice thickness berpengaruh terhadap noise dan spasial resolusion . Semakin tebal slice maka semakin rendah noise, semakin tipis slice maka semakin tinggi noise. Semakin tebal slice semakin rendah resolusinya dan semakin tipis slice maka semakin tinggi resolusi.
4) Patient size
Setiap pertambahan ketebalan objek 4 cm berpengaruh terhadap bertambahnya atenuasi. 50 %, juga berpengaruh pada pixel noise. Noise akan semakin bertambah 2 kali lipat jika ketebalan bertambah 8 cm.
5) Scan time
Parameter scan time mempunyai pengaruh terhadap mereduksi artifact akibat pergerakan objek. Semakin kecil waktu maka semakin sedikit kemungkinan terjadi artifak akibat pergerakan objek.
b. Setelah scanning : algorithma, window setting, dan rekonstruksi.
1) Algorithma
Parameter Algorithma mempunyai pengaruh terhadap gambaran yang baik (good definision) pada level noise yang tinggi. Smoothing algorithm, menghasilkan level noise yang rendah, hasil gambaran kurang baik (poorer edge definition).
2) Window setting
Sangat berpengaruh pada tampilan gambar ct scan. Berupa brightness dan kontras dalam skala keabu-abuan
3) Rekonstruksi
Setelah gambar sudah muncul di layar monitor, maka proses rekonstruksi gambar adalah proses selanjutnya.
BAB III
PENTALAKSANAAN CT SCAN NASOFARING
A. Persiapan Pasien
Pada pemeriksaan CT Scan Nasofaring tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan oleh pasien. Tetapi pada saat akan dilakukan pemeriksaan, pasien diharuskan mengisi informed concent yang telah disediakan oleh bagian pendaftaran sebagai persetujuan dilakukannya pemeriksaan dan melepas benda-benda logam yang ada pada bagian kepala dan leher. Tujuan pemeriksaan CT Scan Nasofaring yaitu Untuk mengevaluasi kelainan pada Nasofaryng yang berupa infeksi atau tumor serta metastasenya ke organ sekitar.
B. Prosedur Pemeriksaan CT Scan Nasofaring
1. Register Pasien
Setelah menerima surat permintaan pemeriksaan, tahap pertama yang harus dilakukan adalah mengisi register pasien. Caranya adalah dengan menekan tombol register patient pada keyboard kemudian melengkapi data-data pasien yang meliputi: nama pasien, nomor identitas, umur, tanggal pemeriksaan, jenis kelamin, klinis, nama dokter pengirim, posisi pasien, nama operator, dan nama dokter radiologi.
2. Pengaturan Posisi Pasien
Pada pemeriksaan CT Scan Nasofaring, pasien diposisikan supine atau tidur terlentang diatas meja pemeriksaan, MSP tubuh pasien berada pada pertengahan meja pemeriksaandengan kedua bahu pada bidang horizontal yang sama. Kedua lengan berada disamping tubuh kemudian tubuh pasien diberi fiksasi tubuh untuk mencegah terjadinya pergerakan pasien selama pemeriksaan berlangsung.
3. Pengaturan Posisi Obyek
Posisi obyek (kepala dan leher) harus diatur sebaik mungkin. Kepala pasien diletakkan pada bantalan kepala dengan posisi simetris dan diekstensikan serta jangan lupa diberi fiksasi. Lalu atur posisi kepala agar sejajar dengan garis lampu lasser sagital. Atur agar obyek yang diperiksa berada diantara lampu lasser dengan menekan tombol yang ada pada gantry. Atur sentrasi dengan batas atas ± 5 cm diatas glabella dan batas bawahnya pada incisura jugularis.
4. Pembuatan Topogram
Topogram adalah gambaran digital dari keseluruhan obyek dalam proyeksi AP dan lateral yang akan digunakan untuk menentukan area pengambilan irisan axial. Untuk membuat topogram, masukkan terlebih dahulu data-data pasien dengan mengklik “patient” kemudian klik “registration” pada monitor komputer. Setelah mengisi semua data pasien, lalu klik exam pada tampilan register pasien kemudian klik load. Tunggu beberapa saat sampai pada monitor tampil perintah untuk menekan move lalu start. Pada CT Scan Nasofaring, tampilan topogram adalah dalam proyeksi lateral dengan parameter sebagai berikut:
a. kV : 80 kV
b. mA : 50 mA
c. Panjang Topogram : 256 mm
d. Window width : 500
e. Window level : 50
Setelah topogram tampil pada layar monitor, selanjutnya dibuat rencana area scan dengan batas atas mencakup sinus frontalis dan batas bawah mencakup setinggi columna vertebralis cervicalis II. Batas anterior mencakup bagian tubuh tanpa terpotong dan batas posterior mencakup bantalan.
5. Proses Scanning Pre-Kontras
Pengambilan irisan axial dilakukan dengan ketebalan irisan 1,25 mm dan interval 0,5 mm. Parameter-parameter yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. kV : 120 kV
b. mA : 190 mA
c. Window width : 119
d. Window level : 29
6. Penyuntikkan Bahan Kontras
Untuk pemeriksaan CT-Scan Nasofaring, bahan kontras harus diberikan agar dapat membedakan antar tumor dengan jaringan normal disekitarnya. Bahan kontras disuntikkan melalui intra vena sebanyak 50 cc dengan dosis 1cc/kg berat badan pasien. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, maka sebelum penyuntikkan bahan kontras sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu kepada pasien atau keluarganya, apakah pasien tersebut memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan atau makanan-makanan tertentu. Jika pasien memiliki alergi, maka sebaiknya dilakukan skin test terlebih dahulu dan tunggu sekitar 5 menit. Apabila tidak ada reaksi terhadap bahan kontras, maka pemeriksaan dapat dilanjutkan. Apabila ada reaksi, maka sebaiknya dikonsultasikan dulu kepada dokter radiologi.
7. Proses Scanning Post Kontras
Setelah penyuntikan bahan kontras selesai, scanning dilakukan lagi untuk mendapatkan gambaran potongan axial dengan kontras. Parameter yang digunakan sama seperti pada scanning pre kontras. Hasil scanning menunjukkan perbedaan kontras pada daerah tumor sehingga daerah tersebut memiliki nilai Hounsfield Unit (HU) yang lebih tinggi dari daerha sekitarnya. Setelah proses scanning selesai, jarum injeksi dilepas dan pasien dapat meninggalkan ruangan CT-Scan.
8. Rekonstruksi dan Reformat Gambar
Setelah pemeriksaan selesai, dengan penggunaan spiral pada MSCT (Multi Slice Computed Tomography) ini gambaran dapat direkonstruksi dan direformat menjadi potongan sagital dan coronal tanpa harus merubah posisi dan pengulangan scanning.
9. Pencetakan Gambar
Apabila gambaran sudah selesai direkonstruksi dan direformat, maka gambaran siap dicetak pada printer.
Gambar 11. Hasil potongan axial CT Scan Nasofaring
Gambar 12. Hasil potongan coronal CT Scan Nasofaring
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemeriksaan CT Scan Nasofaring adalah pemeriksaan pencitraan pada Nasofaring dan area sekitarnya yaitu parafaryng dan mastication. Tujuan pemeriksaan CT Scan Nasofaring adalah untuk mengevaluasi kelainan pada nasofaring yang berupa infeksi atau tumor serta metastasenya ke area sekitar. Pengambilan gambar nya meliputi potongan axial dan coronal dengan menggunakan bahan kontras.
B. Saran
Pemeriksaan CT Scan Nasofaring bagus dalam pencitraan daerah nasofaring, bila ada kelainan seperti KNF, maka penulis sarankan untuk dilakukan pencitraan CT Scan Nasofaring karena baik dalam mengevaluasi tumor dan metastase di area sekitar nasofaring. Pemeriksaan ini menggunakan bahan kontras, maka terlebih dahulu penulis sarankan untuk dilakukan skin test guna mengetahui ada tidaknya alergi pada pasien terhadap bahan kontras dan saat pemeriksaan pintu ruang CT Scan ditutup rapat agar tindakan proteksi radiasi telah dilakukan dengan baik dan aman.
TUGAS ENGLISH RADIOLOGY 2
1. Refference acording fotocopy of book’s ISBN (2 books).
Resnick, M.D., Martin I. 1988. Current Trends In Urology Volume 4. United States of
America : Williams & Wilkins.
Garson, G. David. 1987. Academic Microcomputing A Resource Guide. New Delhi : Sage
Publications.
2. Website radiography international university.
Academy of medicine of Malaysia :
http://acadmed.org.my/ diakses pada tanggal 28-1-2012.
Nanyang Polytechnic :
http://www.nyp.edu.sg/ diakses pada tanggal 28-1-2012.
3. Website internasional hospital (radiology).
Parkway Hospital :
http://www.parkwayhealthradiology.com diakses pada tanggal 28-1-2012.
4. Journal radiography.
Source : http://www.radiographyonline.com/article/S1078-8174(12)00073-9/fulltext diakses pada tanggal 28-1-2012.
5. Abstract from internet.
Source : http://www.google.com/imgres?imgurl=http://blog.everydayscientist.com/wp-content/uploads/startnotes1.png&imgrefurl=http://blog.everydayscientist.com/?m%3D200904&h=731&w=701&sz=161&tbnid=lF7LMpBkdhW4HM:&tbnh=90&tbnw=86&zoom=1&usg=__3RkFxyJffq2ZuIxV2ZGGS26dNg0=&docid=XaK2XNzfFxMhMM&hl=en&sa=X&ei=bdfkUKPkFcnNrQfTyYCgBA&sqi=2&ved=0CD0Q9QEwAg&dur=258 diakses pada tanggal 3-1-2013.
6. Job Application and Curiculum Vitae.
ERA FRANSISKA
PERSONAL DETAILS
Full name : FRANSISKA, ERA
Age : 19 years old
Nationality : Indonesia
Address : Dept. Kesehatan RI. JL Hang Jebat III Bl. F3 12120 Jakarta, Indonesia.
Mobile : 089604110261
E-Mail : erafransiska@rocketmail.com
PROFILE
I’m a student of Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta 2 now. I have studied in there 2 years since 2011. Altough just only a student I have got some experience to services the patient. I have got the experience from practice at laboratory with pantom when I still in the first year and then in the second year I have practiced in many hospital in Jakarta. I have met with much type of patient and service them from a patient that can follow my instruction until patient that cannot follow my instruction.
Skills Base
• Make Conventional Photo.
• Can use the Radiography Computer.
• Health from medical check up.
• Eager to give the best services for the patient.
• Mature and pleasant personality with a strong personal drive.
• Strong work ethic demonstrated by behavior and appearance with high standard of professionalism.
• Can work well in a team as well as able to effectively deliver results individually a team work player with good interpersonal and communication skills.
Academic Qualifications
• Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta 2 : Radiology and Radiotherapy Technic 2011 – now
• SMAN 5 Palangka Raya : 2008 – 2011
• SMPN 2 Palangka Raya : 2005 – 2008
• SDN 8 Menteng : 2000 – 2005
• SDN Langkai 6 Percobaan : 1999 – 2000
• TK Adhiaksa XVIII : 1997 – 1999
Practice Experience at :
• RS Saint Carolus Jakarta
• RS Sioloam Kebon Jeruk
• RSUP Fatmawati
EFFUSI PLEURA PADA THORAX
2.1. Anatomi Fisiologi Thorax
Thorax terletak antara leher dan perut. Cavum thorax terdiri dari jantung, paru-paru, trakea, esophagus dan pembuluh darah. Rangka thorax dibentuk oleh columna vertebralis, tulang costae, cartilage costae, dan sternum. Tulang-tulang tersebutlah yang melindungi cavum thorax and beberapa organ abdomen. Cavum Thorax juga diisi oleh cavum pleura. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5-15 ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).
2.2 Patofisiologi : “Effusi Pleura Pada Thorax”
a. Definisi Effusi Pleura
Efusi Pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Efusi pleura bukanlah suatu disease entity tapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita.
Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleura, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000).
Transudat merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh, terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu karena ketidakseimbangan tekanan hidrostaltik atau ankotik. Transudasi menandakan kondisi seperti asites, perikarditis. Penyakit gagal jantung kongestik atau gagal ginjal sehingga terjadi penumpukan cairan. Sedangkan, eksudat adalah ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas. Sebagai akibat inflamasi oleh produk bakteri atau humor yang mengenai pleura contohnya TBC, trauma dada, infeksi virus. Efusi pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif. TBC, pneumonia, infeksi paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis hepatis, embolisme paru, infeksi parasitik.
b. Penyebab Efusi Pleura
Penyebab efusi pleura transudat, antara lain gagal jantung kongestif, perikarditis, kelebihan cairan di jaringan tubuh menyebabkan cairan masuk ke rongga pleura, penyakit hati, Meig’s Sindrom, dialysis peritoneal, serta stadium awal obstrusi limfatik. Sedangkan penyebab efusi Pleura eksudatif adalah tumor pleura, tuberkolosis, pneumonia, metastasis kanker, emboli paru, infeksi viru/jamur/parasit yang melibatkan paru, penyakit abdomen, penyakit hati, trauma, penyakit pleura dan lain-lain.
c. Tanda dan Keluhan Efusi Pleural
Keluhan pokok yang biasanya dirasakan penderita adalah nyeri dada, sesak napas, batuk-batuk, panas, lebih senang tidur/baring ke satu arah (sisi yang berupa cairan). Keluhan-keluhan tersebut tergantung dari jumlah dan jenis cairan; kalau banyak atau purulent keluhan lebih berat.
Tanda-tanda pentingnya adalah, pada sisi yang sakit : Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal. Vokal fremitus melemah. Pekak, batasnya merupakan garis lengkung dari medial bawah ke lateral atas di sebut garis Ellis-Damoiseau. Bunyi pernapasan menurun atau menghilang pada sisi yang sakit. Mediastinum terdorong ke sisi yang sehat, dapat di lihat/di raba pada trakea dan Iktus kordis berpindah ke sisi yang sehat.
Gambaran rontgent penderita Efusi Pleura
2.3. Penatalaksaanaan Prosedur Pemeriksaan Thorax
a. Alat-alat yang digunakan
1. Pesawat Sinar-X dan Control Table
2. Imaging Plate
3. CR
4. Marker R/L
b. Persiapan Pasien
Sebelum melakukan pemeriksaan, pasien diantaranya melakukan persiapan sebagai berikut :
1. Membawa surat keterangan dokter.
2. Pergi ke tempat ruang instalansi radiologi.
3. Menyerahkan surat keterangan dokter kepada administrasi radiologi.
4. Menyelesaikan administrasi sebelum melakukan pemeriksaan.
5. Masuk ke ruang radiologi.
6. Pasien wanita diminta berganti baju dan melepas BH serta asesoris yang dapat menggangu hasil gambaran rongent sedangkan pasien lelaki diminta untuk melepas baju serta melepaskan semua asesoris yang dapat mengganggu gambaran hasil rontgen.
7. Mengikuti prosedur pemeriksaan yang diberikan oleh radiografer.
c. Prosedur Pemeriksaan
Dalam kasus pemeriksaan efusi pleura agar gambaran klinis terlihat jelas maka proyeksi yang dilakukan adalah PA Erect, AP Erect dan Lateral Decubitus untuk mengukur volume cairan (sisi yang menempel disesuaikan dengan paru yang terisi dengan cairan).
1. Thorax PA Erect
• Pasien diposisikan erect menghadap bucky stand (kaset vertikal), MSL // garis tengah kaset.
• Kedua punggung tangannya diletakkan di atas panggul dan siku ditekan ke depan.
• FFD 150 cm, CR horizontal, CP pada MSL setinggi CV thoracal VI.
• Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh, berikan aba- aba : tarik napas, tahan! (Ekspose) Napas biasa!
Kriteria Gambar :
• Foto mencakup keseluruhan thorax, bagian atas: apeks paru-paru tidak terpotong.
• Bagian bawah: kedua sinus costophrenicus tidak terpotong.
• Diafragma mencapai iga ke- 9 belakang
• Kedua Os scapula terlempar ke arah lateral
• C.V. Thoracalis tampak s/d ruas keempat
• Tampak bayangan bronchus
• Foto simetris
• Tampak marker R/ L
2. Thorax AP Erect
• Pasien diposisikan erect menghadap tube, MSL // garis tengah kaset.
• Kedua punggung tangannya diletakkan di samping tubuh.
• FFD 150 cm, CR horizontal, CP pada MSL setinggi CV thoracal VI.
• Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh, berikan aba- aba : tarik napas, tahan! (Ekspose) Napas biasa!
Kriteria Gambar :
• Tampak gambaran thorax proyeksi AP
• Batas atas apex paru
• Batas bawah sinus costophrenicus
• Dinding lateral tidak terpotong
• CV TH sampai ruas ke empat
• Diafragma mencapai iga IX belakang
• Tampak bayangan bronchus
• Marker L / R & identitas pasien
• Foto simetris
3. Thorax Lateral Decubitus
• Pasien diposisikan lateral recumbent pada sisi kiri atau kanan
• Kaset dipasang vertikal dengan salah satu tepinya kira-kira 5 CM di
• Sisi lateral tubuh pasien diganjal bantal tipis
• Lengan yang dekat ke meja pemeriksaan lurus ke atas dan lengan yang satunya lagi memeluk kaset
• Tubuh pasien true lateral, kedua lutut fleksi untuk keseimbangan
• MSL // garis tengan kaset
• FFD: 150 CM, CR: horizontal, CP : pada MSL setinggi CV Thoracal VII
• Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah inspirasi penuh.
Kriteria Gambar
• Tampak gambaran Thorax proyeksi PA dengan sisi yang diperlukan tidak terpotong
• Bila memungkinkan foto simetris
• Bayangan lengan tidak menutupi paru-paru
• Ada marker L/ R
2.4. Bentuk Paru-Paru
Bentuk paru-paru biasanya sesuai dengan bentuk tubuh pasien, hal ini perlu diperhatikan dan berguna dalam pemilihan kaset agar hasil gambaran sesuai kriteria dan tidak terpotong. Dengan ini kita dapat menentukan kaset yang digunakan dan posisi kaset landscape atau portrait.
Langganan:
Postingan (Atom)